Abu Bakar Ba’asyir Bukan Kakek Sembarang Kakek

Wacana terkait pembebasan Abu Bakar Ba’syir oleh Presiden Joko Widodo menyedot perhatian publik dan warga net (netizen), pasalnya Ustadz Abu, demikian ia akrab disapa adalah terpidana kasus terorisme. Data mencatat, pada 9 Agustus 2010 Ba’syir ditahan oleh Kepolisian Republik Indonesia atas tuduhan terlibat dalam satu cabang Al Qaeda di Aceh. Untuk kemudian pada 16 Juni 2011 Ba’asyir dijatuhi hukuman 15 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan setelah dinyatakan terlibat dalam pendanaan latihan teroris di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia.

Setelah menghuni Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat, selama delapan tahun, Presiden Jokowi membebaskannya dengan alasan kemanusiaan, karena Ba’asyir sudah usia lanjut dan sering sakit-sakitan.

Rasa kemanusiaan Presiden Jokowi terhadap tokoh Islam keturunan Arab yang lahir pada 17 Agustus 1938 tersebut seolah melupakan bahwa Ba’asyir memiliki catatan panjang terkait penolakannya pada Pancasila sebagai ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan aksi terorsme.

Era Orde Baru

Pada tahun 1972 Ba’asyir bersama Abdullah Sungkar, Yoyo Roswadi, Abdul Qohar H. Daeng Matase dan Abdllah Baraja mendirikan Pondok Pesantren Al-Mukmin di Desa Ngruki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Ba’syir dituduh melarang santri di Pondok Pesantren Al-Mukmin untuk menghormat pada bendera merah putih karena menurut Ba’asyir, menghormat pada bendera adalah perbuatan syirik. Selain itu, Ba’asyir juga dituduh menghasut orang untuk menolak asas tunggal Pancasila. Atas tuduhan tersebut, pada tahun 1983 Ba’asyir bersama Abdullah Sungkar ditangkap dan divonis sembilan tahun penjara. Saat kasusnya memasuki kasasi, Ba’asyir dan Abdullah Sungkar menjadi tahanan rumah.

Kekuatan era Orde Baru pun ternyata tidak cukup kuat untuk mengawasi Ba’asyir dan Abdullah Sungkar selama menjadi tahanan rumah. Terbukti, keduanya berhasil melarikan diri ke Malaysia melalui Medan. Dan akhirnya keduanya menetap di Malaysia sejak 1985 hingga pemerintahan Orba berakhir, pada tahun 1998.

Era Reformasi

Orde baru berlalu, lahirlah reformasi. Pada era reformasi inilah menjadi awal sepak terjang Ba’asyir dalam memperjuangkan tegaknya syariah Islam di Indonesia. Pada tahun 1999, Ba’asyir melakukan pengorganisasian MMI (Majelis Mujahidin Indonesia). MMI adalah organisasi Islam garis keras. Selanjutnya, MMI melaksanakan Kongres I di Yogyakarta pada 8 Agustus 2002 dan terpilihlah Ba’asyir sebagai Ketua Mujahidin sementara.

Pada tahun yang sama, tepatnya tanggal 12 Oktober 2002, Indonesia dihantam teror bom yang terjadi di Bali, tepatnya di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) yang berada di Jalan Legian, Kuta. Sejarah menulis catatan kelam, 202 orang meninggal dunia dan 209 luka-luka dan cidera akibat teror bom yang dikenal dengan Bom Bali I tersebut.

Dua hari setelah tragedi Bom Bali I, Ba’asyir mengadakan konferensi pers dan menyatakan bahwa bom di Bali merupakan upaya Amerika Serikat untuk membuktikan tudingannya bahwa Indonesia adalah sarang teroris.

Pernyataan Ba’asyir tersebut menjadi mentah ketika Ba’asyir dinyatakan bersalah atas konspirasi Bom Bali 2002. Ba’asyir diganjar hukuman penjara selama 2 tahun 6 bulan.

Tua-tua Keladi

Ba’asyir memang sudah sepuh, sudah tua, usia 81 tahun bukanlah usia yang muda lagi. Tapi Ba’asyir bukan kakek yang berprofesi sebagai petani atau penjahit yang “suci” dari catatan dan aksi “mengerikan”. Ba’asyir adalah lelaki tua yang pernah terbukti mempengaruhi orang lain untuk menolak Pancasila, Ba’asyir adalah kakek yang pernah terbukti terlibat dalam konsiparasi pemboman, Ba’asyir adalah kakek yang pernah terbukti terlibat dalam pendanaan dan pelatihan teroris.

Abu Bakar Ba’asyir tidak bisa dianggap setara dengan kakek-kakek pada umumnya karena Ba’asyir masih menolak Pancasila dan bahkan enggan meminta maaf karena tidak merasa bersalah atas semua aksinya, Ba’asyir tetaplah orang yang berbahaya meski secara fisik ia sudah renta.

Terkait wacana membebaskan Ba’asyir atas nama kemanusiaan, harusnya Pemerintah tidak grasa grusu  (terburu-buru). Sebab, mengabaikan siapa Abu Bakar Ba’asyir yang sesungguhnya sangatlah tidak berperikemanusiaan. “Mainan” si kakek adalah bom, bukan bola bekel.

Jika benar Ba’asyir dibebaskan, siapa yang berani menjamin bahwa Ba’asyir tidak akan menjadi seorang kakek yang tua-tua keladi, semakin tua semakin jadi, karena merasa kematian sudah sangat dekat, maka bukan hal mustahil ia semakin berani berjihad sesuai versinya. Sorga so dakat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.