Aplikasi Pinjaman Online, dari Lintah darat menjadi Lintah Digital

Tersiarnya kabar bahwa seorang nasabah aplikasi pinjaman online berakhir bunuh diri karena tidak sanggup membayar pinjaman dan tidak kuat lagi menghadapi tekanan penagih padahal hanya meminjam 500,000 sungguh menggores nurani. Atas dasar itu, Warta Sultra menugaskan saya untuk melakukan eksperimen dengan melakukan analisa pada beberapa aplikasi pinjaman online. Dalam eksperimen tersebut, aplikasi pinjaman yang dipilih adalah aplikasi pinjaman yang terdaftar OJK maupun tidak. Semua tulisan saya dilengkapi data1a bukan "katanya-katanya" sebab Warta Sultra memberi warta bukan cerita. Eksperimen dilakukan sejak Februari 2019 hingga saat ini. Semoga bermanfaat
Sari Puspita Ayu

WartaSultraID—Orang yang memberikan pinjaman uang dengan bunga tinggi, itulah rentenir. Selain bunga tinggi, rentenir acapkali dikelilingi para juru tagih yang kejam. Di satu sisi, rentenir dibenci, karena tanggal jatuh tempo dan bunga yang tak bisa dinegosiasi. Di sisi lain, rentenir dibutuhkan sebagai jalan pintas untuk mendapatkan pinjaman, mengingat mengajukan pinjaman ke bank atau koperasi harus memenuhi beberapa syarat yang mana tak semua orang mampu memenuhinya.

Berurusan dengan rentenir, peminjam (sebut saja nasabah) harus menyiapkan barang jaminan, biasanya berbentuk emas, barang elektronik, surat kendaraan, atau unit kendaraan itu sendiri. Dua resiko besar yang harus siap dihadapi oleh nasabah ketika tidak mampu membayar pinjaman pokok, bunga yang terus bertambah atau diistilahkan beranak dan kehilangan barang jaminan.

Profesi Rentenir Bukan Lagi Profesi Memalukan

Bagi sebagian orang, rentenir adalah profesi yang memalukan, profesi yang berlumur dosa karena mencari-mendapatkan keuntungan besar dari seseorang yang membutuhkan uang. Tapi rentenir akan membela diri, bahwa kedua pihak sama-sama diuntungkan karena nasabah juga akhirnya bisa menyelesaikan masalahnya dengan uang yang dipinjam. Belum lagi adanya mitos bahwa jasad seorang rentenir akan memanjang dan tidak diterima bumi saat dikuburkan. Tapi itu semua hanyalah isapan jempol bagi seseorang yang memang sudah memutuskan menjalankan profesi sebagai rentenir.

Seiring perkembangan zaman, di era digital seperti sekarang ini, berurusan dengan rentenir tidak lagi harus bertatap muka untuk mendiskusikan jumlah pinjaman, barang jaminan, dan bunga pinjaman. Karena rentenir masa kini bisa berwujud aplikasi pinjaman online (pinjol) yang bisa dengan mudah diunduh melalui play store bagi pengguna android. Pinjol tidak memerlukan barang jaminan, hanya dibutuhkan e-ktp, dan sebagian aplikasi memerlukan syarat tambahan berupa NPWP dan slip gaji. 

Sebagaimana tertulis dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi, menimbang bahwa teknologi informasi telah digunakan untuk mengembangkan industri keuangan yang dapat mendorong tumbuhnya alternatif pembiayaan bagi masyarakat. Jadi, aplikasi pinjaman online merupakan alternatif pembiayaan, selain bank, koperasi, dan pegadaian. 

Jika sebelumnya, seorang rentenir bisa dikenal siapa namanya, dimana rumahnya, dan seperti apa wujud fisiknya, kini rentenir cukup berbentuk aplikasi pinjaman online. Nasabah hanya mengingat meminjam dari aplikasi apa. Tanpa selalu tahu siapa pemilik aplikasi tersebut, karena tidak semua aplikasi pinjol menyertakan nama atau profil perseroan mereka. Sehingga untuk menjadi rentenir masa kini tidak akan dengan mudah dikenal oleh tetangga atau bahkan keluarganya. Dan lagi tidak ada  yang menyematkan rentenir, mereka disebut dengan penyelenggara jasa pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi meskipun cara kerja mereka persis rentenir, ada bunga dari setiap pinjaman, apalagi pinjol yang tidak terdaftr OJK, benar-benar rentenir. Maka penulis beri nama, rentenir digital.  

Sebagaimana eksperimen yang dilakukan oleh penulis, tidak semua aplikasi pinjol melayani nasabah dari Sulawesi Tenggara (Sultra). Data mencatat, pada bulan Februari 2019 Satgas Waspada Investasi OJK telah memblokir 600 lebih aplikasi pinjol tetapi hingga saat ini, pinjol ilegal tetap eksis, dari pinjol OJK dan non OJK tersebut, sebagian besar bisa melayani nasabah dari Sultra. 

Pinjol Terdaftar OJK dan Non OJK 

Perbedaan yang mudah terlihat di aplikasi adalah, pinjol yang terdaftar OJK menyertakan logo OJK. Selain itu, pinjol terdaftar OJK bunganya lebih rendah dan tenor (jangka waktu kredit) juga lebih panjang, lebih 20 hari , meskipun ada sebagian yang menerapkan tenor kurang dari 20 hari. Eksperimen mencatat, pinjol terdaftar OJK cenderung lama proses analisa dan persetujuannya, sedangkan pinjol non OJK lebih cepat, hanya hitungan jam. Bisa jadi, hal inilah yang membuat nasabah tetap memilih meminjam dari pinjol non OJK. Secara keseluruhan, penulis simpulkan, tidak ada jaminan bahwa pinjol terdaftar OJK pasti lebih bagus pelayanannya, demikian juga sebaliknya. 

Berikut 106 perusahaan teknologi keuangan yang terdaftar di OJK. Untuk diketahui, tidak semua fintech bergerak di bidang layanan pinjam meminjam uang secara online. 

Tukang Tagih

Penagih utang atau bahasa kerennya debt collector sebenarnya sebuah profesi tukang tagih yang bisa dijalankan oleh siapa saja, tetapi entah bagaimana sejarahnya, debt collector identik dengan orang yang keras dan kasar. Bahkan cenderung seperti preman, pandangan seperti ini tidak sepenuhnya salah karena memang sudah sangat sering terjadi ulah tukang tagih ini mirip dengan aksi premanisme. Terbukti, tukang tagih pinjol mengakibatkan nasabah bunuh diri karena tidak sanggup menghadapi tekanan mereka. Tetapi, eksperimen mencatat, penagih pinjol juga ada yang terpelajar dan berbudi bahasa yang baik.

Penagih digital yang hanya berwujud suara laki-lki atau perempuan di sambungan telepon, serta rangkaian ketikan di aplikasi chat online (whatsapp) tetapi cukup garang dan menakutkan bagi nasabah yang mengalami keterlambatan membayar pinjaman. Meskipun, penulis memiliki data bahwa keterlambatan tidak selamanya kesalahan nasabah.

Jika nasabah terlambat membayar maka harus siap menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak akan pernah sama mulai pagi hingga malam hari. Tidak hanya itu, kalimat-kalimat pedas dan keras sarat intimidasi juga akan diterima nasabah melalui whatsapp, dan tidak jarang, juru tagih mengancam akan menyebarkan transaksi pinjaman online tersebut ke daftar nomor telepon yang ada di ponsel nasabah.

Perlu diketahui, salah satu prosedur yang harus disetujui oleh nasabah ketika berurusan dengan rentenir digital adalah berkenan memberikan izin kepada pemberi pinjaman untuk masuk ke sistem ponsel nasabah. Itu artinya, seluruh data yang ada dalam ponsel nasabah sudah menjadi milik bersama, tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Baca juga: Mengenal Fintech, Si Rentenir Digital

Jika berhadapan dengan juru tagih rentenir konvensional akan menghadapi resiko dicaci maki, diperlakukan kasar, dan rumah didatangi terus menerus, sehingga nasabah malu dengan tetangga dan sanak keluarga. Demikian juga ketika berhadapan dengan juru tagih rentenir digital, nasabah juga harus siap dengan resiko dipermalukan, mungkin tidak dipermalukan di depan tetangga tetapi akan dipermalukan di hadapan semua daftar telepon yang ada di dalam ponselnya. Yang itu artinya, dipermalukannya lebih luas cakupannya, karena dalam daftar telepon nasabah bisa saja nomor saudara, tetangga, sahabat, ipar, calon ipar, mertua, calon mertua, klien, calon klien, atau bahkan musuhnya.

Jika sudah demikian, maka menjadi masuk akal ketika tersiar kabar bahwa ada nasabah aplikasi pinjol yang akhirnya bunuh diri karena tidak sanggup menghadapi tekanan dari para tukang tagih. Sebab rentenir tetaplah rentenir, meski dipermanis dengan istilah “layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi”, meskipun telah berubah dari lintah darat menjadi lintah digital.

Pun demikian, aplikasi pinjol tidak sepenuhnya buruk, dengan bunga selangit sekali pun, karena aplikasi pinjaman online terbukti mampu memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan uang dalam waktu cepat. Dilihat dari jumlah pinjaman yang ditawarkan dimana rata-rata menawarkan 500,000 hingga 2,500,000, maka kalangan yang dibidik oleh aplikasi pinjol adalah kalangan menengah ke bawah. Demikian bagian pertama ini diakhiri. (*WS)