Berikut Alasan Basrin Melamba Menyusun Disertasi tentang Kekristenan di Sultra

Basrin Melamba selaku dosen di Universitas Halu Oleo Kendari, Sulawesi Tenggara, pada hari ini, Rabu (14/8/2019) berbasil meraih Cum Laude atau lulus dengan predikat pujian dalam sidang terbuka promosi Doktor di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Jawa Barat, pada jurusan Ilmu Sejarah. Dengan demikian Basrin Melamba mengukuhkan dirinya sebagai akademisi kedua dari Universitas Halu Oleo yang meraih gelar Doktor di bidan ilmu sejarah atau secara spesifik, ilmu sejarah. Gelar Doktor pertama kali diraih Dr. Rifai Nur, M. Hum, gelar doktor dari Universitas Indonesia.

Sidang yang dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB tersebut bertempat di Ruang Rapat Dekanat FIB Unpad. Ujian dimpimpin langsung oleh Dekan FIB Unpad serta dihadiri oleh Dekan FIB UHO Dr. Ahmad Marhadi, S.Sos. M,Si, Ketua Prodi S3 Sastra, rekan-rekan penerima Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia disaksikan oleh keluarga dan undangan lainnya.

Dalam ujian tersebut Basrin Melamba berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Kristen Protestan dan Perubahan Sosial Budaya pada Masyarakat Tolaki dan Moronene di Sulawesi Tenggara, 1915-2006”. Sebelum menempuh ujian terbuka, Basrin telah memenuhi syarat untuk ujian dengan berhasilnya menulis dua jurnal terakreditasi nasional indeks Sinta Dikti dan Jurnal Internasional terindeks Scopus lengkap dengan accepted letter-nya atau surat penerimaannya.

Prof. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, MS selaku Ketua Tim Promotor yang merupakan Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Unpad dan mantan Anggota Tim Penganugerahan Pahlawan Gelar Pusat (TP2G P), Basrin Melamba berhasil menyelesaikan studi relatif singkat, waktu selama tiga tahun, dengan Indeks Prestasi (IPK) 4.00.

Lebih lanjut disampaikan, dalam penelitiannya. Basrin Melamba menungkapkan mengenai arus besar masuknya agama Kristen Protestan di daratan Sulawesi Tenggara. Penelitian yang telah dilakukan oleh Promovendus yaitu mulai dari penelusuran sumber-sumber di berbagai perpustakaan dan kantor arsip baik di Kendari, Kolaka, Bombana, Makassar, Yogyakarta, maupun di Jakarta, termasuk Perpustakaan Nasional RI dan di Arsip Nasional RI.

Baca juga: Mengangkat Tema Kekristenan di Sultra, Disertasi Basrin Melamba Raih Predikat Cum Laude

Selain penelitian di dalam negeri, Basrin Melamba juga melakukan penelitian di Belanda, di antaranya Nationaal Archief (NA), Koninklijke Bibliotheek (KB), Nationale Bibliotheek, di Den Haag, Leiden Universiteit Bibliotheek (UB), Nederlandsche Hermork Kerk (NHK) di Oegstgeest, Het Utrechts Archief (HUA), dan beberapa lembaga lainnya.

Tidak hanya melakukan penelitian. juga dilakukan wawancara dengan para informan di Kendari, Bombana (Moronene), dan Kolaka. Data yang digali dari sumber-sumber sejarah tersebut kemudian dideskripsikan secara diakronik, analisis kritis, dan menghasilkan penggambaran yang relatif lengkap tentang Kristen Protestan dan Perubahan Sosial Budaya pada Masyarakat Tolaki dan Moronene di Sulawesi Tenggara (1915-2006).

Ketika dikonfirmasi terkait pilihan Basrin Melamba melakukan penelitian tema kekristenan, sementara Basrin Melamda adalah seorang muslim, Basrin mengungkapkan bahwa ia memiliki beberapa alasan. Alasan pertama, sejarawan harus memiliki mayor identity. Alasan kedua, selama ini studi para sejarawan mengenai kekristenan hanya menfokuskan di beberapa wilayah di Pulau Sulawesi yang dikenal memiliki basis Kristen yang kuat hingga kini, misalnya, Minahasa dan Manado di Sulawesi Utara. Poso di Sulawesi Tengah, dan Tanah Toraja, Mamasa, serta Luwu di Sulawesi Selatan.

Basrin menegaskan, belum pernah ada studi berupa disertasi mengenai historiografi Kristen pada daerah yang bukan basis atau memiliki pengaruh kekristenan yang kurang begitu kuat dalam konteks kekinian.

Baca juga: Basrin Melamba Ungkap Pengaruh Kristen pada Perkembangan Sosial Budaya Masyarakat Tolaki dan Moronene

“Sesungguhnya pada zaman Hindia Belanda, Sulawesi Tenggara memiliki basis kekristenan yang kuat dan mengalami pertumbuhan dan perkembangan begitu pesat. Saya mengikuti gagasan Karel Steenbrink seorang ahli sejarah gereja bahwa kebanyakan studi yang tersedia mengenai Kristen di Indonesia ditulis oleh orang yang terlibat dalam kegiatan gereja, dan cuma sebagian kecil saja yang berasal dari kalangan di luar kelompok ini, tutur Basrin Melamba melalui pesan whatsapp, Rabu (14/8/2019).

Selama ini penulisan sejarah gereja umumnya dikerjakan oleh para misionaris atau dari kalangan gereja sendiri. Bahwa ternyata pada zaman Hindia Belanda agama Kristen Protestan telah tumbuh dan berkembang begitu pesat. Hal ini dapat dilihat dari kuantitas jumlah jemaat mencapai kurang lebih 10 persen dari penduduk di Sulawesi Tenggara pada saat itu.

Selain itu hampir menyeluruh kampung-kampung yang ada di pedalaman daratan Tolaki dan Moronene mendapat pengaruh Kristen. Hanya sayang pada periode selanjutnya mengalami masa-masa sulit dan kritis bagi umat gereja.

“Kekristenan pola pedalaman (Vorstelanden), pola harmonisasi antara Kristen dan Muslim pada zaman Hindia Belanda, pola pendidikan Kekristenan di Sulawesi Tenggara, untuk lebih detil mengenai eksplanasi sejarah Kristen di daerah ini dapat dibaca di dalam disertasi saya setebal kurang lebih 600 halaman,” lanjut Basrin Melamba.

Usai ujian, Basrin Melamba mengungkapkan bahwa semoga dengan pencapaian gelar ini akan menumbuhkan kesadaran untuk senantiasa memberikan dan mengabdikan ilmu, sebagai ilmuwan hendaklah meniru ilmu padi, serta tidak pernah berhenti menuntut ilmu.

“Melalui kesempatan ini saya ingin menyampaikan bahwa seiring dengan selesainya masa studi dan dalam proses penyelesaian disertasi ini, begitu banyak tantangan dan hambatan yang telah saya alami. Tetapi sebagai seorang muslim, percaya bahwa sesudah kesulitan pasti ada kemudahan dan Allah akan mengangkat beberapa derajat di antara kamu orang yang beriman dan berilmu,: tutur Basrin Melamba.

Dalam kesempatan ini, Basrin Melamba juga menyampaikan terima kasih kepada Rektor Universitas Halu Oleo, Dekan FIB dan FKIP UHO serta teman teman di Jurusan Ilmu Sejarah maupun Pendidikan Sejarah atas dukungannya selama ini.

Untuk diketahui, aktivitas sehari-hari Basrin Melamba sebagai dosen pada jurusan Ilmu Sejarah FIB, sebelumnya Jurusan Pendidikan FKIP UHO, Selaian itu, ia dikenal sebagai seorang sejarawan dan budayawan Sulawesi Tenggara. Ia juga dikenal aktif di lembaga Adat Tolaki kedudukannya sebagai Dewan Pakar Adat LAT Kota Kendari. (*WS)

Berita ini juga dipublikasikan di Warta Digital Indonesia 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.