Hapus Stigma Negatif, Lihat Apa yang Dilakukan Anak Punk Cibinong

Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris, yang menjadi wadah untuk mencurahkan kritik dan protes atas penguasa pada waktu itu. Punk memiliki ideologi sosialis yang bersifat bebas. Punk lebih dikenal melalui gaya busananya seperti potongan rambut mohawk, jaket penuh dengan spike dan bedge, sepatu boots, jeans ketat, badan bertato, body piercing, dan hidup di jalan-jalan.

Proses modernisasi di Indonesia menyebabkan kehadiran punk sebagai gaya hidup baru, yang umumnya dianut oleh sebagian kaum muda. Punk kemudian lebih dikenal sebagai tata cara hidup sehari-hari, dengan ekspresi diri yang menjurus pada gaya hidup bebas seperti free sex, nongkrong di jalan, ngamen, mengkonsumsi alkohol, main musik dengan pogo, dan gaya busana yang nyeleneh.

Pure Punk mempunyai ideologi, etika, prinsip hidup yang berlandaskan pada DIY (Do It Yourself). Etika DIY terkait erat dengan kepercayaan diri sebagaimana adanya. Memulai sendiri apa yang bisa dilakukan untuk sebuah perubahan. Punk tidak membutuhkan orang lain yang belum tentu memikirkan perubahan atau kemajuan bersama. Ini bukan berarti individualis, tapi lebih bersifat independen (mandiri), tidak bergantung kepada orang lain. Etika DIY juga terkait erat dengan gerakan perlawanan.

Orang-orang yang mengikuti gaya hidup punk disebut anak punk. Persebaran gaya hidup punk sangat marak di kota-kota di Indonesia, salah satunya di Bogor

Punk mulai masuk ke Indonesia sekitar akhir 1970-an. Masuknya gaya hidup punk ke Indonesia diawali pula oleh masuknya musik-musik beraliran punk ke Indonesia namun perkembangannya tidak sepesat di negeri asalnya. Punk di Indonesia pada awalnya hanyalah sebuah komunitas kecil yang tidak terang-terangan menunjukkan gaya hidup punk.

Kemudian anak-anak muda mulai meniru gaya berpakaian dan mulai memahami ideologi dan akhirnya menjadikan punk sebagai gaya hidupnya. Pada perkembangannya baik di negeri asalnya maupun di Indonesia, Komunitas Punk telah mempunyai suatu sub-kultur tersendiri yang diakui masyarakat dan terkadang dianggap menyimpang. Punk semakin populer dengan timbulnya punk sebagai suatu tren atau bahkan gaya hidup. Contohnya, dalam dunia fashion, gaya berpakaian punk menjadi tren bagi masyarakat umum.

Di kabupaten Bogor, tepatnya di Cibinong, ada sekumpulan orang penganut budaya punk, titik kumpul mereka persis di bawah fly over Cibinong. Mereka ada yang berprofesi sebagai pengamen, pemilik dan pengelola usaha percetakan dan sablon, tukang parkir.

Mereka per tiga bulan melakukan kegiatan non-music seperti Food Not Bombs (FNB), kegiatan ini cukup familiar di kalangan pegiat skena punk tanah air. Gerakan seperti ini sudah masuk ranah lokal sejak awal 2000-an dan dilakukan hampir di beberapa kota secara terpisah dan tak tersentralisasi. Siapa saja berhak melakukan kampanye FNB-nya sendiri. Tidak perlu komando, tidak perlu persetujuan siapa-siapa.

Food Not Bombs (FNB) sendiri adalah Gerakan yang diadopsi dari aksi sipil di Washington USA tahun 1980 yang menentang perang dan pembuatan nuklir. Berdasar dari pemikiran bahwa yang dibutuhkan manusia adalah “kehidupan” (food, makanan) dan bukan “kematian” (bombs,bom atau senjata). Bentuk aksi dari FNB adalah pendistribusian makanan gratis pada siapapun yang membutuhkan.

Namun FNB tidak sama dengan konsep amal atau derma. FNB lebih pada membuka kesadaran untuk berbagi sekaligus sarana non formal untuk membuka ruang interaksi publik dimana isu-isu sosial dapat diangkat dan didiskusikan dengan semua orang/siapapun.

Untuk proses pembuatan makanan dimulai dengan sweeping di pasar tradisional dengan mengerahkan beberapa orang yang dipecah menjadi beberapa kelompok dimana masing-masing kelompok terdiri dari 2-3 orang. Masing-masing kelompok diberikan daftar buruan sayur yang akan digunakan sebagai bahan dasar untuk masak memasak di keesokan harinya.

Mereka masih menggunakan trik swasembada dimana bahan yang akan digunakan didapat dari donatur yang ada di pasar dan itu pun jika mereka mendapatkan donasi dari donatur, jika tidak maka mereka sebisa mungkin menutup kekurangan biaya pengadaan bahan dengan biaya kolektif dari teman-teman sendiri, karena mereka pun memiliki uang kas. Semisal, untuk minyak, tempe, kayu bakar, dan gas LPG untuk memasak kami gunakan biaya patungan. Sedangkan untuk beras sebagai bahan dasar pembuatan nasi, biasanya dikondisikan membawa sendiri beras dari rumah.

Lokasi memasak, mereka memanfaatkan rumah dari salah satu anggota dan mereka pun masak bersama-sama. Sebagaimana pantauan penulis di lokasi pada Minggu (18/8/2019), hampir semua anggota memiliki kemampuan memasak. Hasil masakannya pun tidak kalah dengan hasil masakan juru masak profesional.

Usai memasak, mereka menyiapkan tempat dimana mereka bisa membagikan makanan kepada siapa saja yang membutuhkan. FNB biasanya digelar dari sore hingga malam hari. Memang sekilas gelaran FNB hampir mirip dengan acara amal yang sering digelar oleh para sukarelawan.

Poin penting yang bisa digaris bawahi adalah FNB bukan seperti acara amal yang mengharapkan pahala setelah memberi. Tetapi ini adalah sebuah agenda yang mengasyikkan dimana tidak ada paksaan ataupun birokrasi dari organisasi politik yang membuat anak-anak punk merasa terkekang. Satu lagi yang tak kalah penting, FNB mendistribusikan makanan vegetarian. (*WS)


Karena makanan adalah hak semua orang bukan hak istimewa segelintir orang saja!
Karena kekurangan bahan makanan adalah bohong!
Karena di saat kita lapar atau kedinginan kita punya hak menemukan apa yang kita inginkan dengan prosedur menanti, mengamen, atau menduduki bangunan-bangunan kosong!
Karena kapitalisme menjadikan makanan sebagai sumber keuntungan, bukan sebagai sumber nutrisi!
Karena makanan tumbuh pada tanaman!
Karena kita butuh sekeliling yang terkait bukan kendali!
Karena kita butuh rumah bukan penjara!
Karena kita butuh makanan bukan bom!