Jaffray Bittikaka: Program “1 Desa 1 Pengusaha” Solusi Melahirkan Pengusaha di Sultra

Dari dan untuk kaum muda Sulawesi Tenggara (Sultra), demikian tepatnya untuk menggambarkan semangat Jaffray Bittikaka (JB) dalam mewujudkan lahirnya pengusaha-pengusaha muda asal Sultra. CEO Burawa Group kelahiran 17 Agustus 1978 ini memang konsisten dalam program-program pengembangan potensi kaum muda di berbagai bidang, baik keorganisasian, bisnis, ekonomi kreatif, maupun investasi.

Sadar bahwa salah satu jalan untuk dapat mempercepat kemajuan ekonomi negara adalah meningkatkan jumlah pengusahanya. Pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) maupun wirausaha pemula (WP) diharapkan mampu meningkatkan jumlah pengusaha di tanah air tanpa kecuali Sultra. Untuk mewujudkan harapan tersebut, JB bersama Jendela Bangsa Foundation merintis sebuah program “1 Desa 1 Pengusaha”.

“Program 1 Desa 1 Pengusaha ini membidik kaum muda di pedesaan di seluruh wilayah Sultra,” jelas JB melalui whatsapp, Senin malam (28/1/2019).

Ketika ditanya mengapa harus kaum muda di pedesaan yang menjadi sasaran program yang diprakarsai Jendela Bangsa Foundation, JB menyampaikan, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, anak muda dari pedesaan harus merantau ke kota besar, tetapi sayangnya, usai menyelesaikan pendidikannya, mereka jarang yang mau pulang kampung dan membangun desa dengan berbagai alasan.

“Salah satun alasannya, karena di desa tidak ada yang bisa dikerjain,” lanjut lelaki dua anak ini.

Dengan demikian, program “1 Desa 1 Pengusaha” ini diharapkan mampu menjadi solusi untuk terciptanya peluang usaha dan terbukanya lapangan kerja. Sehingga tidak ada lagi kesenjangan yang tajam antara desa dan kota.

JB menambahkan, Sultra memiliki hasil perkebunan dan laut yang sangat kaya, salah satu contoh adalah jagung. Petani jagung seringkali hanya menjual hasil panen ke pasar untuk dijual dalam bentuk sayur mentah. Salah satu konsentrasi dari program “1 Desa 1 Pengusaha” adalah membina para kaum muda untuk mampu mengolah produk berbahan jagung yang memiliki nilai jual dan daya saing baik di tingkat lokal maupun nasional.

 

Selain itu, Sultra memiliki hasil laut yang melimpah. Menurut JB banyak makanan kemasan berbahan hasil laut yang bisa dikembangkan di desa-desa. Sebut saja bakso ikan, siomay, dan baso tahu. Semua makanan tersebut bisa diproduksi di desa-desa pesisir dan dengan sentuhan tangan-tangan kreatif, makanan tersebut bisa dijual dalam kemasan yang menarik dengan tetap menjaga faktor higienis.

“Peluang menjadi pengusaha di Sultra ini sangat besar, sekarang ini tinggal bagaimana Jendela Bangsa Foundation dan kita semua serta dukungan semua pihak untuk menggalang semangat dan menyatukan tekad bahwa kita mampu,” lanjut Wakil Ketua Umum KADIN Sultra.

Peluang usaha di desa, lanjut JB, tidak hanya bersumber dari pengelolaan hasil perkebunan dan laut, usaha di bidang ekonomi kreatif dan bidang lain juga sangat terbuka lebar.

“Jika program 1 Desa 1 Pengusaha ini dijalankan maka tujuan utama kita semua untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan terwujud, sehingga kesejahteraan merata dari desa ke kota, di seluruh wilayah Sultra,” imbuh JB.

Membuka usaha tentu tidak bisa lepas akan kebutuhan adanya modal. Disinggung masalah ini, JB menyampaikan, modal usaha sangat penting, tetapi sekarang ini yang jauh lebih penting adalah dukungan dari dan bagi kaum muda yang ada di desa agar program “1 Desa 1 Pengusaha” yang diprakarsai dan dikelola oleh Jendela Bangsa Foundation ini mampu diterima dan dipahami serta didukung sehingga bisa berjalan.

“Jika masalah modal, di Senayan banyak dana untuk UMKM, dan itulah ruang pengabdian saya,” tegas Jaffray Bittikaka. (*WS)