Kehadiran dan Peran Joki Pinjol

Mengajukan pinjaman online (pinjol) bukanlah satu hal yang mudah meskipun secara teori hanya bermodalkan smart phone, nomor telepon, KTP, dan beberapa dokumen pendukung. Proses pengajuan yang mengharuskan calon nasabah mengunduh kemudian mengunggah aplikasi, lalu mengisi data pribadi seperti mengunggah KTP, verifikasi wajah, mengisi kolom data pekerjaan, kontak darurat (kondar), dan rekening bank. Setelah itu, nasabah menunggu hasil pengajuan pinjaman, antara disetujui atau ditolak. Karena calon nasabah sangat membutuhkan uang, maka ia akan melakukan pengajuan ke beberapa aplikasi, dengan harapan salah satu aplikasi menyetujui pinjaman yang diajukan.

Baca juga: Pembalasan Nasabah Sakit Hati, Melawan Pinjol dengan Data Palsu

Proses yang nampak sederhana tersebut, memakan banyak waktu dan kesabaran saat mengisi persyaratan yang ditentukan masing-masing aplikasi. Berpengaruh pula pada emosi calon nasabah karena bukan hal yang mustahil, meskipun persyaratan yang ditetapkan pihak aplikasi telah dipenuhi tetapi tetap saja ditolak. Bahkan, dalam satu hari mengajukan ke lebih dari tiga aplikasi, semuanya ditolak.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki tingkat kesabaran lebih dan juga memiliki pengalaman terkait aplikasi yang mudah memberikan pinjaman. Dengan kemampuan tersebut, mereka menawarkan jasa sebagai joki. Peran joki di sini sangat besar, itu sebab imbalan bagi mereka pun relatif besar. Sebagian joki meminta uang jasa diawal, sebelum pengajuan pinjaman. Sebagian lagi, akan meminta imbalan saat pengajuan pinjaman sudah cair atau bahasa kekinian di kalangan nasabah pinjol adalah lumer.

Baca juga: Pemblokiran Pinjol Ilegal Tidak Merugikan Penyelenggara tapi Justru Nasabah

Jumlah imbalan seorang joki tergantung nominal pinjaman yang berhasil diajukan. Menurut pengakuan beberapa joki yang berhasil berkomunikasi dengan penulis, mereka menentukan presentase atau angka tetap per aplikasi. Tanggung jawab joki hanya membantu pengajuan pinjaman tapi tidak bertanggungjawab terhadap resiko yang akan dialami oleh nasabah.

Beberapa joki memiliki kemampuan untuk mengamankan data nasabah dengan trik dan tips yang hanya mereka tahu. Sebagian joki lagi hanya menguasai proses pengajuan tanpa tahu cara pengamanan data nasabah.

Para joki ini biasanya menawarkan jasanya melalui group facebook. Untuk meyakinkan calon klien (katakan saja demikian), joki akan melampirkan bukti keberhasilannya membantu pengajuan pinjaman. Baik bukti berbentuk screenshot aplikasi pinjol maupun percakapan dengan klien (sebut saja demikian).

Menjadi joki seolah mudah dan berpenghasilan besar tetapi ternyata menurut pengaduan beberapa joki, sering juga mereka tidak dibayar karena nasabah yang mereka bantu “menghilang” atau karena alasan nominal yang didapat belum mencukupi kebutuhan nasabah.

Untuk diketahui, calon nasabah yang ingin menggunakan jasa joki untuk mengajukan pinjaman di pinjol harus melakukan pertemuan langsung, tidak bisa dilakukan secara jarak jauh.

Joki yang menjalankan tugasnya dari jarak jauh biasanya adalah orang-orang yang memiliki kode refferal ampuh ke aplikasi pinjol tertentu, dimana joki tersebut setelah memberikan kode refferal. Ia akan mengarahkan calon nasabah dalam proses pengajuan hingga pengajuan disetujui.

Pemilik referal jarang meminta imbalan karena ia akan secara otomatis mendapatkan bonus dari aplikasi pinjol ketika ia berhasil membawa nasabah baru.

Sama seperti profesi lainnya, joki pun bukan profesi yang tidak selalu diperankan oleh orang baik. Sebagaimana iinformasi yang dihimpun penulis, banyak juga joki yang menghilang setelah menerima imbalan di awal, sehingga nasabah yang butuh uang dan berharap dapat pinjaman dari aplikasi justru mengalami kerugian dengan kehilangan uang jasa tersebut.

Pilihan kembali kepada calon nasabah, melakukan pengajuan pinjaman ke pinjol dengan menggunakan jasa joki atau dilakukan sendiri. (*WS)