Mengenal Fintech, Si Rentenir Online

WartaSultraIDFintech (financial technology) sejatinya adalah sebuah inovasi di bidang finansial (keuangan) yang diharapkan keberadaannya memberikan dampak positif bagi pengguna atau nasabah, tetapi tidak selalu demikian kenyataannya. Beberapa hari yang lalu tersiar kabar bahwa seorang nasabah sebuah aplikasi fintech atau pinjaman online mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Kabar tersebut membuat publik menyimpulkan bahwa bunga yang diterapkan oleh aplikasi pinjaman online sangatlah tinggi sehingga nasabah tidak mampu membayar dan akhirnya memilih mengakhiri hidupnya. Sungguh kabar yang tragis.

Fintech sendiri merupakan bisnis start-up (usaha rintisan) yang sedang naik daun. Beberapa bisnis yang tergabung dalam fintech adalah proses jual beli saham, pembayaran, peminjaman uang (pinjaman online), transfer dana, investasi ritel, perencanaan keuangan (personal finance), dan lainnya, yang kemudian publik lebih mengenal fintech sebagai sarana pinjaman online.

Pinjaman online ini memberikan kemudahan bagi seseorang yang membutuhkan uang cepat dalam jumlah tertentu tanpa perlu menjaminkan barang kepada pihak peminjam.

Cara mengajukan pinjaman relatif mudah karena calon nasabah tidak perlu mengantri di kantor pihak peminjam dan menjaminkan barang apapun untuk mendapatkan pinjaman. Proses disetujui atau ditolak pun tidak perlu berhari-hari sebagaimana mengajukan pinjaman ke koperasi atau bank. Selain itu, tidak ada sistem survey ke rumah, kantor, atau rumah keluarga. Cukup dengan mengunduh aplikasi, registrasi (mendaftar), dan kemudian mengajukan pinjaman. Terkait nominal yang disetujui, diputuskan sepenuhnya oleh pihak aplikasi pinjaman online.

Hampir semua aplikasi pinjaman online menerapkan proses yang sama kepada calon nasabah dimana semua proses dan atau persyaratan tersebut telah disetujui oleh calon nasabah. Setelah calon nasabah mengunduh aplikasi pinjaman online, maka calon nasabah diminta untuk mendaftar dengan nomor telepon seluler aktif dan akan lebih memudahkan proses pendaftaran apabila nomor telpon yang didaftarkan juga digunakan sebagai modem ponsel.

Setelah registrasi, semua aplikasi pinjaman online akan memunculkan pop-up yang berisi permohonan izin kepada calon nasabah. Aplikasi akan meminta izin untuk mengetahui lokasi calon nasabah, daftar nomor telpon yang tersimpan di ponsel, izin untuk membaca sms masuk dan keluar, izin untuk melihat aktifitas aplikasi chat, alamat email, dan bahkan tidak jarang meminta izin untuk masuk ke dalam sistem ponsel secara menyeluruh. Itu artinya, meskipun pinjaman online tidak menerapkan sistem survey ke rumah atau kantor calon nasabah, tetapi aplikasi online mampu mendapatkan informasi yang lengkap tentang calon nsabah.

Para caon nasabah seharusnya sudah paham dari awal bahwasannya ketika mereka memutuskan berurusan dengan aplikasi pinjaman online maka mereka siap “ditelanjangi” oleh aplikasi tersebut. Maka calon nasabah tidak perlu kaget jika saat sudah jadi nasabah dan atau pengajuan pinjaman telah disetujui maka pihak aplikasi memantau semua kegiatan di ponsel nasabah.

Usai proses registrasi, calon nasabah akan menerima kode verifikasi yang otomatis masuk melalui sms ke nomor ponsel yang telah didaftarkan. Kemuncian, calon nasabah akan diberi pilihan jumlah pinjaman yang dibutuhkan. Sebagian besar atau bahkan hampir semua aplikasi pinjaman online menawarkan jumlah pinjaman minimal 500,000 maksimal 3,000,000. Terkait jumlah pinjaman yang disetujui, seratus persen wewenang pihak peminjam. Satu lagi, tidak semua aplikasi pinjaman online menerima calon nasabah dari Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Dua dari sekian banyak aplikasi pinjaman online yang memberikan kemudahan bagi calon nasabah asal Kendari adalah aplikasi Kredit Pintar dan DanaRupiah.

Setelah memilih jumlah pinjaman yang diajukan, calon nasabah diminta untuk mengisi data pribadi. Bagi penulis, pengisian data pribadi ini sekedar formalitas saja karena sesungguhnya pihak aplikasi atau peminjam bisa melihat data pribadi secara langsung. Data pribadi yang memungkinkan tidak didapatkan di data ponsel adalah NIK (nomor induk kependudukan).
Secara lengkapnya, data pribadi yang diminta oleh aplikasi pinjaman online adalah, nama lengkap, nik e-ktp (selain e-ktp tida disetujui, alamat tinggal, alamat kantor, jabatan di kantor, masa kerja, jumlah gaji, nomor telpon orang-orang terdekat, nomor rekening bank atas nama calon nasabah. Terkait data nomor telepon orang terdekat, calon nasabah tidak perlu capek-capek menulis karena pihak aplikasi hanya meminta calon nasabah untuk memilih nomor di data nomor telepon, hal ini dikarenakan pihak aplikasi telah diberi izin oleh calon nasabah untuk melihat semua data nomor telepon.

Apakah untuk data e-ktp cukup dengan menyebutkan nik saja, tentu tidak. Pada tahap berikutnya, calon nasabah diminta untuk memotret ktp miliknya melalui aplikasi pinjaman online secara langsung, pihak aplikasi sudah menyediakan formatnya, calon nasabah tinggal memotret sesuai dengan frame (bingkai) yang ditentukan.

Usai identifikasi fisik e-ktp, dilanjutkan dengan identifikasi wajah, calon nasabah diminta untuk memotret dirinya melalui kamera depan. Sama halnya dengan pemotretan ktp, pemotretan wajah juga melalui aplikasi pinjaman, pihak aplikasi telah menyediakan formatnya, calon nasabah tinggal memposisikan wajah dengan tepat sesuai frame yang ditentukan.

Sebagian aplikasi pinjaman online menerapkan identifikasi wajah dengan gerakan. Calon nasabah diminta mengarahkan kamera depan ke wajah lalu mengikuti instruksi dari aplikasi online. Gerakan yang diminta adalah, menunduk, menoleh ke kiri dan ke kanan, serta membuka mulut.

Apabila data pribadi dan proses identifikasi e-ktp dan wajah selesai, sebagian aplikasi langsung mengarahkan ke halaman yang berisi keterangan bahwa pengajuan pinjaman sedang dalam proses peninjauan untuk kemudian dalam beberapa saat pihak aplikasi akan memberikan jawaban kepada calon nasabah, pinjamannya disetujui atau tidak.

Tetapi sebagian aplikasi, tidak cukup hanya meminta data pribadi, identifikasi e-ktp, dan wajah, pihak aplikasi juga meminta agar dihubungkan kea kun media sosial atau akun di beberapa toko online. Pola menghubungkan aplikasi kea kun media sosial dan toko online ini dimaksudkan untuk memantau kegiatan calon nasabah di media sosial dan toko online yang bisa berpengaruh pada jumlah pinjaman yang disetujui.

Proses pengajuan pinjaman online yang relatif mudah ini sesungguhnya tidaklah semudah yang dibayangkan karena persetujuan itu tidak mudah meskipun syarat yang diminta telah dipenuhi. Maka ketika calon nasabah benar-benar butuh dana maka calon nasabah pasti akan mengajukan ke aplikasi yang lain dan mengikuti semua tahapan yang ditetapkan, itu artinya calon nasabah membuka kembali kesempatan bagi lebih banyak aplikasi untuk “menelanjangi” dirinya melalui data pribadi yang ada di ponsel.

Jika pengajuan pinjaman disetujui, calon nasabah tinggal menunggu dana masuk ke rekening bank yang dicantumkan, waktu pengiriman sangat cepat. Calon nasabah yang telah berubah menjadi nasabah ini pun kemudian bahagia karena mendapatkan uang yang ia butuhkan meskipun si nasabah secara sadar telah menyetujui sebuah transaksi keuangan yang akan menjerat dirinya dengan bunga tinggi. Tetapi bagi orang yang sedang membutuhkan uang cepat, “intimidasi” bunga tinggi mampu ditaklukkan.

Selain membayar bunga tinggi, nasabah juga harus siap dengan penagih yang akan mengganggu jam kerja dan istirahatnya dari pagi, siang, sore, malam, jika nasabah terlambat membayar pinjaman.

Karena pinjaman online tidak sama dengan koperasi atau bank yang memiliki jam kerja. Atas nama online, aplikasi pinjaman online bekerja 24 jam, selama sistem online tidak mengalami gangguan. Jika sudah demikian, tidaklah berlebihan jika fintech atau aplikasi online adalah istilah kekinian untuk profesi rentenir yang sering disebut lintah darat oleh masyarakat umum. (*WS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.