Menulis Perwajahan Guru PGRI Sultra Melalui Budaya Menulis

WartaSultraID—Keberadaan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) sangat menginspirasi perubahan budaya menulis bagi guru. PGRI mengusung Workshop Guru

Menulis yang bertema “Menjadi Guru Hebat Dengan Menulis”, yang dilaksanakan sejak hari Kamis sampai dengan Sabtu (28-30 Maret 2019).

Workshop tersebut dihadiri oleh Ketua Umum Pengurus Besar PGRI Prof.Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan dan kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara Asrun Leo, M.Pd, PhD, dan Ketua PGRI Provinsi Sulawesi Tenggara Dr. Abdul Halim Momo, M.Pd. Workshop tersebut dirangkaikan dengan pelantikan pengurus Dewan Eksekutif Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis (APKS) PGRI Sultra.

Workshop selama tiga hari tersebut berlangsung di Hotel Ataya Kendari dengan peserta dan panitia berjumlah 60 orang. Narasumber yang berkompeten dan hebat dihadirkan dalam workshop tersebut antara lain: Dr Irianto Ibrahim, M.Pd. (Dosen Bahasa dan Sastra UHO), Catur Nurrochman Oktovian, M.Pd (Pengurus APKS PGRI Pusat dan Asosiasi Guru Penulis PGRI), Dr. Basrin Melamba, S.Pd M.A. (Dosen IPS UHO), dan Milwan, S.Pd., M.Pd. (Kepala Sekolah SMPN 9 Kendari).

Resep menulis yang disuguhkan narasumber dalam workshop guru menulis PGRI sungguh memikat peserta untuk lebih mengetahui dan memahaminya. Catur Nurrochman Oktavian mengajak guru-guru untuk tidak takut memulai menulis melalui “Karya Tulis Ilmiah”. Menurut Catur Nurrochman, menulis adalah keterampilan, maka kunci agar para guru dapat menulis adalah terus berlatih menulis dan banyak membaca. Sesuai Motto dalam presentasinya “Karena aku menulis, maka aku ‘mewajibkan’ diriku untuk membaca…”.

Karya tulis terbagi atas dua yaitu Fiksidan non fiksi. Fiksi merupakan karangan mengaktifkan imajinasi dalam bentuk tulisan. Contohnya yaitu Cerpen dan Novel sedangkan Non Fiksi mengetengahkan hasil pikiran, hasil pengamatan, tinjauan dalam bidang tertentu yang disusun secara sistematis dan terarah. Tulisan akademik termasuk contoh bentuk karya ilmiah. Karya ilmiah hasil penelitian maupun non penelitian memiliki ciri yang serupa, yaitu memenuhi kaidah ilmiah. Ada tiga syarat Karya Tulis Ilmiah yaitu isi cakupannya ilmiah, metodenya ilmiah, dan memenuhi syaratnya menulis ilmiah.

“Menulis Buku Populer”. Basrin Melamba dalam presentasinya di depan peserta workshop Memulai pertanyaan “Mengapa orang menulis?”. Menulis adalah kebutuhan dan merupakan hobi, dan ada peluang. Menulis modalnya kemauan, pengalaman dan banyak membaca. Anda ingin menulis? Resepnya adalah Maka berawal dari ide, Buatlah alat penangkap ide, Menentukan tema (Tembus sasaran), Mengembangkan tema, Mulai menulis setiap kata, Bertandanglah ke pustaka berjalan, Gunakan waktu kita dengan bijak, Jangan lupa membuat target harian, dan Aktiflah di forum menullis.

Keempat narasumber workshop tersebut mampu mengubah perwajahan peserta dalam hal ini guru PGRI Sultra yang mampu berkomitmen akan melahirkan buku ataupun artikel, dan Opini sesuai jumlah peserta guru menulis yang diselenggarakan oleh pengurus PGRI Sultra. Oleh Karena itu, menulis dapat mengubah diri dan mengubah lingkungan menjadi lebih baik. Budayakan diri dalam menulis yang berkaitan dengan profesi Pendidik maupun tema pendidikan lainnya sehingga melahirkan generasi-generasi yang hebat dan hebat karena menulis. Jangan pernah berhenti, tetaplah solit dan konsisten sesuai porsi dan tuntutan zaman. “Selamat Berkarya! Hebat Karena Karya”. (*WS)

Penulis 
Heriani Haris, S.Pd., M.Pd
Anggota Dewan Eksekutif Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis (APKS) PGRI Sultra