Musim Kemarau Segera Tiba, Berikut Penjelasan Stasiun Klimatologi Ranomeeto

WartaSultraID—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Ranomeeto mengungkapkan, saat ini Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) masih berada pada musim hujan, namun tidak akan lama lagi musim kemarau akan segera tiba.

“Berdasarkan perkiraan kami, awal musim kemarau pada wilayah Sultra diperkirakan antara awal Juni hingga akhir Juli 209,” ujar Aris Yunatas selaku Kepala Stasiun Klimatologi Ranomeeto kepada awak media saat menggelar konfrensi pers di Kantor Stasiun Klimatologi Ranomeeto, Senin (15/4/2019).

Ia menjelaskan bahwa prakiraan awal musim kemarau 2019 di Sultra ini meliputi sebagian wilayah Kolaka Timur (Koltim), Bombana, Konawe Selatan (Konsel), Kabupaten Konawe dan Konawe Utara (Konut).

Pada umumnya mundur dari rata-rata normalnya di sebagian wilayah Kolaka, Bombana, Kabena, Muna, Muna Barat, Buton Tengah, Bau-Bau, Buton, Buton Selatan, Buton Utara dan Wakatobi diperkirakan maju dari rata-rata normalnya. Sedangkan, lanjut Aris Yunatas, di sebagian wilayah Bombana, Konawe Selatan, Konawe Kepulauan dan Kendari diperkirakan sama dengan rata-rata normalnya.

Pada musim kemarau nanti kata Aris Yunatas, akan berdampak pada beberapa sektor. Misalnya, di sektor kebencanaan, saat kondisi pengurangan intensitas curah hujan terjadi mengakibatkan kekeringan, krisis air bersih, rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Di sisi lain, seperti sektor perkebunan akan berdampak pada kekurangan air pada tanaman, rusaknya komoditi tanaman tertentu akibat kering yang berkepanjangan. Kondisi ini akan mengakibatkan gagal panen yang dapat menyebabkan menurunnya produksi pertanian tertentu dan pada akhirnya dapat menyebabkan kenaikan harga.

“Antisipasi yang bisa dilakukan adalah menampung cadangan permukaan air, penyesuaian jenis tanaman dan pengaturan jadwal penanaman. Hal ini yang bisa dilakukan oleh para petani,” jelas Aris Yunatas .

Lebih lanjut ia sampaikan, musim kemarau bukan hanya memberikan dampak negatif, tetapi bisa juga memberikan dampak positif. Misalnya pada sektor perikanan tangkap oleh para nelayan.

“Kalau musim kemarau kadar garam di daerah pinggiran laut lebih tinggi dari biasanya, sehingga ikan akan mendekat ke pantai dan memudahkan nelayan untuk menangkapnya dan juga produksi ikan meningkat,” terangnya.

Sifat curah hujan pada musim kemarau di tahun 2019 di Sultra diperkirakan pada umumnya di bawah normal dan normal. Namun dalam skala harian, kondisi cuaca sangat fluktuatif. Pihaknya berharap masyarakat terus memperhatikan informasi cuaca dari BMKG.

“Saya berharap masyakat dapat memperhatikan cuaca, terutama para petani yang akan menanam, jangan sampai gagal panen,” pungkasnya. (*WS)