Nasib Habib Rizieq, Keturunan Nabi Didenda di Tanah Suci

WartaSultraID—Memiliki nama lengkap Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab tapi lebih dikenal dengan Habib Rizieq, Rizieq Shihab, atau Habib Rizieq Shihab. HRS mendeklarasikan berdirinya FPI (Front Pembela Islam) pada 17 Agustus 1998, tiga bulan masa orba (orde baru) berakhir. Meski didirikan di Tangerang, tepatnya di Pondok Pesantren Al-Umm Tangerang, tapi kelompok paramiliter yang penuh kontroversi ini berpusat di Jakarta.

Sepak terjang HRS bersama FPI dimulai pada Sidang Istimewa MPR tanggal 3 November 1998 dimana FPI menyampaikan aspirasi atas nama tuntutan rakyat untuk mencabut Pancasila sebagai asas tunggal sekaligus penghentian Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) serta pencabutan dwifungsi angkatan bersenjata (dwifungsi ABRI). Dari data tersebut bisa disimpulkan, sejak awal HRS dan FPI menolak Pancasila. Tapi aksi tersebut belum membuat HRS dan FPI cukup populer sebagai pasukan pembela Islam.

Pada bulan dan tahun yang sama, perkelahian meletus pasca perusakan salah satu masjid yang ada di Ketapang, Gajah Mada, Jakarta Pusat yang diduga dilakukan oleh sekelompok preman. FPI berhasil memukul mundur kelompok preman tersebut. Mulai harum nama FPI.

Penulis buku “Hancurkan Liberalisme, Tegakkan Syariat Islam” ini bersama FPI selalu menyuarakan pemberantasan kemaksiatan. Prakteknya, beberapa diskotik, tempat pelacuran, dan lokasi perjudian ditutup oleh FPI. Simpati pun semakin banyak berdatangan. Pecinta FPI lahir sedikit demi sedikit dan akhirnya benar-benar menjadi bukit.

Habib Rizieq Mulai Menikmati Penjara

Meski banyak mendapat kecaman dari masyarakat terkait aksinya, HRS dan FPI semakin mendapat tempat di hati masyarakat lainnya, daftar aksi kekerasan yang dilakukan FPI semakin panjang, tidak lagi sekedar menutup tempat-tempat maksiat tapi juga mulai berani melakukan pembubaran acara yang mengusung tema Pancasila.

Sejarah mencatat, penolakan FPI terhadap Pancasila mereka tunjukkan secara terang-terangan dengan melakukan serangan terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang kemudian dikenal dengan Insiden Monas. Tepat pada hari peringatan lahirnya Pancasila pada 1 Juni 2008, AKKBB menyelenggarakan aksi di Monas, Jakarta., tanpa ampun, FPI menyerang peserta aksi dan menghancurkan perlengkapan acara. Alasan FPI melakukan penyerangan karena menganggap AKKBB membela kelompok ahmadiyah, kelompok yang bagi FPI adalah kelompok Islam sesat.

Aksi kekerasan yang dilakukan FPI tersebut berdampak pada perseteruan antara HRS dan almarhum Abdurrachman Wakhid atau Gus Dur. Dengan sangat kasar, HRS menghina Gus Dur dengan pernyataan “Gus Dur buta mata juga buta hati”. Perseteruan tersebut dikarenakan HRS tidak mengakui bahwa FPI merupakan pelaku penyerangan aksi AKKBB di Monas.

Namun, seperti apapun HRS mengelak, HRS dinyatakan terbukti secara sah menganjurkan orang lain dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama-sama untuk menghancurkan barang atau orang lain. Vonis 1,5 tahun penjara pun harus diterima HRS. Maka vonis penjara ini menjadi kali kedua bagi HRS menikmati penjara, setelah sebelumnya pada tahun 2003 HRS terbukti menghina Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan diganjar dengan hukuman 7 bulan penjara.

Habib Rizieq dan Pemilihan Presiden

Sejak Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, HRS dan FPI menyatakan dukungan secara terang-terangan kepada calon presiden Prabowo Subianto. Dukungan berlanjut pada Pilpres 2019, tetapi ada yang berbeda pada Pilpres kali ini, HRS memberikan dukungan dari jarak jauh karena sejak tahun 2017 HRS memutuskan meninggalkan Indonesia dan menetap di Arab Saudi.

Meskipun Partai Gerindra tercatat pernah mengusulkan pembubaran FPI, tapi pada akhirnya, Prabowo Subianto selaku capres dari Partai Gerindra justru berjanji akan menjemput HRS secara khusus apabila Prabowo terpilih sebagai Presiden RI ke-8. HRS sudah sangat percaya diri bahwa Prabowo yang pada Pilpres 2019 ini menggandeng Sandiaga Uno akan menang. Bahkan HRS dengan sangat lantang dan percaya diri menyampaikan “sampai jumpa di Indonesia” melalui rekaman video. Tapi sayang disayang mimpi HRS dan pendukung Prabowo-Sandi kandas, rakyat Indonesia masih menghendaki Joko Widodo menjadi Presiden RI ke-8. HRS pun batal dijemput pulang ke tanah air.

Selama HRS berada di Arab Saudi, beberapa hoax (berita tidak benar) beredar. Di antaranya, bahwa HRS mendapatkan visa unlimited. Hoax lain yang cenderung lucu adalah pernyataan pendukung militan HRS yang menyatakan jika HRS dicabut kewargnegaraannyanya pun tidak akan menjadi masalah besar karena bisa saja HRS sebagai keturunan lansung Nabi Muhammad SAW akan ditawari kursi menteri oleh pemerintah Arab Saudi.

Terkait klaim keturunan nabi, sejauh ini belum ada data otentik yang menguatkan klaim tersebut, baru sebatas informasi oral yang disampaikan FPI dan pendukung setia HRS. Pun jika memang keturunan nabi, sungguh tragis nasib Habib Rizieq yang mulia karena dikabarkan harus membayar denda, FPI melalui Sobri Lubis menilai pemerintah harus bertanggung jawab atas denda yang dibebankan Kerajaan Arab Saudi kepada HRS. Untuk diketahui, Sobri Lubis adalah pentolan FPI yang pernah dengan terang-terangan mengajak membunuh pengikut ahmadiyah.

Menanggapi hal tersebut, banyak warganet yang menyuarakan agar HRS tidak perlu kembali ke tanah air dan pemerintah tidak perlu bertanggung jawab terkait denda karena HRS dianggap tidak memiliki kontribusi apa-apa untuk Indonesia. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah, karena dalam rekam jejak HRS maupun FPI lebih banyak catatan buruk daripada baik.

Sebagian warganet menganggap apa yang menimpa HRS adalah akibat dari mubahalah yang dilakukan HRS terhadap almarhum Gus Dur, dimana dalam mubahalah tersebut HRS menantang, ia atau Gus Dur yang akan dikutuk oleh Allah dan mati dalam keadaan hina. Gus Dur namanya tetap harum hingga saat ini, HRS banyak menuai caci maki meski tetap banyak yang mencintai. Bahkan fotonya sering dijadikan meme yang bermuatan hinaan.

HRS memang “bukan kaleng-kaleng”, ia memiliki daya magnet yang kuat, terbukti dalam Aksi Bela Islam berhasil menyedot dukungan dari jutaan pengikut. Hemat penulis, anggap saja pengikut militan HRS yang turut dalam Aksi Bela Islam berjumlah 7 juta orang, masing-masing menyumbang 100,000 tentu sangat mudah diselesaikan masalah denda tersebut. Tapi itu belum perlu, karena pihak HRS menyatakan sanggup membayar denda tersebut, menurut mereka, ini masalah harga diri. Benar, ini tentang harga diri, harga diri dari seseorang yang dianggap keturunan nabi tapi harus berhadapan dengan denda di tanah suci. (*WS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.