Pemblokiran Pinjol Ilegal Tidak Merugikan Penyelenggara tapi Justru Nasabah

Pinjol adalah jasa pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi, media penghubung antara nasabah dan penyelenggara adalah aplikasi. Sebagaimana diketahui, pinjol ada yang terdafttar dan memiliki izin dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan), ada pula pinjol ilegal.

Sudah banyak aplikasi pinjol ilegal yang diblokir, tetapi dalam waktu dekat, aplikasi tersebut bisa terlahir kembali dengan nama dan logo baru. Blokir adalah aksi yang diambil untuk menghentikan orang tertentu mengakses informasi. Aplikasi pinjol yang telah diblokir otomatis tidak bisa lagi diakses oleh nasabah, tetapi masih bisa diakses oleh penagih dan atau tim kerja aplikasi pinjol tersebut.

Baca juga: Pinjol Cahaya Kilat Diblokir, Lahir Kembali dengan Empat Nama Baru

Sebagaimana hasil eksperimen dan analisa penulis sejak Februari 2019 hingga saat ini, pemblokiran aplikasi hanya membuat penyelenggara berhenti menjaring nasabah melalui aplikasi yang sudah diblokir, tetapi tidak berpengaruh pada penghasilan mereka dalam meraup keuntungan dari bunga harian bagi nasabah yang terlambat membayar atau istilah kekiniannya, galbay (gagal bayar).

Kondisi ini sangat merugikan nasabah karena nasabah tidak lagi bisa melihat jumlah tagihan dan bunga harian yang harus dibayar, nasabah hanya akan mendapatkan data secara sepihak dari penagih.

Yang seringkali terjadi, penagih berlagak memberikan potongan bunga sehingga total tagihan menjadi berkurang. Lalu penagih memberikan virtual account atas nama nasabah dengan jumlah nominal yang ditentukan penagih tanpa nasabah pasti rincian tagihan tersebut.

Selain melakukan eksperimen dan analisa yang dilakukan oleh penulis, penulis juga mengumpulkan data dari nasabah pinjol ilegal maupun legal. Terkait aplikasi pinjol yang telah diblokir, salah satu nasabah menyampaikan bahwa ia hanya menerima virtual account dari penagih. Pihak penagih menawarkan pembayaran dilakukan dengan cara dicicil, dengan dalih meringankan beban nasabah.

Tetapi apa yang terjadi justru beban nasabah berkali lipat karena nasabah tidak bisa memeriksa apakah benar pembayarannya telah berhasil dilakukan dan mengurangi jumlah tagihannya. Setelah nasabah memiliki uang untuk membayar sisa pinjaman, ia kembali membayar ke penagih melalui vitual account yang diberikan. Nasabah merasa, pinjaman telah lunas.

Ternyata penagih kembali meminta sisa hutang dengan jumlah yang cukup besar kepada nasabah dengan dalih, masih ada bunga yang terus berjalan dari sisa tagihan. Karena merasa terlalu berat maka nasabah memilih pasrah dan akhirnya ia dipermalukan melalui telpon, sms, dan group whatsapp.

Sebagaimana tertulis dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi, menimbang bahwa teknologi informasi telah digunakan untuk mengembangkan industri keuangan yang dapat mendorong tumbuhnya alternatif pembiayaan bagi masyarakat.

Baca juga: Tahapan Penagihan Pinjaman Online

Jadi, aplikasi pinjaman online merupakan alternatif pembiayaan, selain bank, koperasi, dan pegadaian. Nasabah bank, koperasi, dan pegadaian bisa mendapatkan rincian tagihan secara detil. Tetapi nasabah pinjol yang aplikasinya telah diblokir, tidak bisa lagi mendapatkan rincian tersebut karena nasabah sudah tidak bisa lagi akses aplikasi.

Jika kemudian muncul pernyataan, “aplikasi pinjol ilegal memang memiliki resiko diblokir oleh pihak terkait”. Maka, seharusnya pemblokiran yang dilakukan benar-benar membuat tidak ada satu pihak pun yang bisa akses ke aplikasi tersebut. Jika pemblokiran hanya pihak nasabah yang tidak bisa akses aplikasi sementara pihak penyelenggara masih bisa, maka maksud dari pemblokiran tersebut untuk apa. Bukankah seharusnya pemblokiran aplikasi pinjol ilegal merupakan bentuk sanksi karena mereka ilegal, dan sanksi tersebut harusnya membuat pihak penyelenggara merugi karena tidak bisa lagi menagih ke nasabah.

Selain resiko tidak bisa akses aplikasi, nasabah pinjol ilegal yang telah diblokir pun tetap harus menanggung resiko menjadi korban fitnah atas penyebaran data secara brutal dari pihak penagih. Itu artinya, aplikasi yang telah diblokir hanya membuat aplikasi tersebut hilang dari peredaran, tetapi pihak penyelenggara tetap meraup keuntungan dari bunga yang terus berjalan dan tetap bisa melakukan penyebaran data secara brutal.

Baca juga: Nasabah Pinjol Tidak Perlu Membayar Hutang Jika Data Sudah Disebar

Kembali kepada pinjol adalah jasa pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi dengan menggunakan aplikasi sebagai penghubung antara nasabah dan penyelenggara, maka sudah seharusnya ketika aplikasi telah diblokir, nasabah terbebas dari hutang. 

Akhirnya yang terjadi, nasabah memberanikan diri melawan pihak pinjol yang telah diblokir dengan cara menolak membayar tagihan, meskipun resiko yang harus dihadapi adalah mendapatkan ancaman, fitnah, dan dipermalukan. Karena memang yang dijaminkan oleh nasabah pinjol bukanlah barang atau surat berharga tetapi data pribadi dan harga diri. (*WS)