Presiden Jokowi Jelaskan Sumber Pendanaan Pemindahan Ibukota Ke Kaltim

Presiden Joko Widodo menyatakan, pemindahan ibukota sudah digagas sejak lama bahkan sejak era Presiden RI pertama, Ir Soekarno. Sebagai bangsa besar yang sudah 74 tahun merdeka, Indonesia belum pernah menentukan dan merancang sendiri ibukotanya.

Presiden menambahkan, setelah pemerintah melakukan kajian-kajian mendalam dan intensifkan studinya dalam tiga tahun terakhir, hasil kajian-kajian tersebut menyimpulkan bahwa lokasi ibukota baru yang paling ideal adalah di wilayah Penajam Pasir Utara dan Kutai Kartanegara,, Povinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Berita terkait: Berikut Pertimbangan Memilih Kalimantan Timur sebagai Ibukota Baru

“Mengapa di Kaltim? Satu, resiko bencana minimal, baik bencana banjir, gempa, tsunami, kebakaran hutan, gunung berapi, dan tanah longsor,” jelas Presiden di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/8/2019).

Berita terkait: Pemindahan Ibukota ke Kaltim karena Beban Pulau Jawa Semakin Berat

Alasan kedua, lokasinya strategis karena berada di tengah-tengah Indonesia. Ketiga, berdekatan dangan wilayah perkotaan yang sudah berkembang, yaitu Balikpapan dan Samarinda. Keempat, memiliki infrastruktur relatif lengkap. Kelima, telah tersedia lahan yang dikuasai pemerintah seluas 180 ribu hektar.

Berita terkait: Pemindahan Ibukota ke Kaltim karena Beban Pulau Jawa Semakin Berat

Terkait pendanaan pemindahan ibukota ke Kaltim, Presiden menyampaikan, total kebutuhan untuk ibukota baru adalah kurang lebih 466 triliun.

“Nantinya, 19 persen dari APBN, itu pun terutama dari skema kerjasama pengolahan aset di ibukota baru dan DKI Jakarta. Sisanya dari KPBU, kerjasama pemerintah dan badan usaha, serta investasi langsung swasta dan BUMN,” jelas Presiden. (*WS)