Selain Terkendala Jaringan Saat Simulasi UNBK, SMPN 4 Kendari Juga Kekurangan Komputer

Menjelang pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), beberapa sekolah khususnya yang berada di Kota Kendari mulai melaksanakan simulasi UNBK guna memperkenalkan kepada siwa-siswi tentang aplikasi UNBK serta menguji aplikasi tersebut.

Pada saat simulasi UNBK, pihak sekolah sering mendapatkan kendala teknis berupa jaringan yang terkadang tidak dapat terhubung saat mensinkronkan ke server pusat dari server sekolah, server tidak dapat terhubung ke komputer atau laptop masing-masing siswa dan koneksi jaringan yang kurang baik.

Seperti halnya yang dialami oleh Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Kendari. Dalam pelaksanaan simulasi UNBK di hari pertama, pihak sekolah mendapat kendala yakni server sekolah tidak bisa terhubung ke komputer maupun laptop. Kendala tersebut masih dialami hingga memasuki sesi kedua simulasi UNBK.

“Dua hari lalu, server tersebut berfungsi dengan baik, namun kemarin mengalami permasalahan sampai saat ini. Akhirnya di ruangan dua dari total empat ruangan tidak dapat digunakan,” ujar Drs. Muh. Saleh, M.Pd selaku Kepala Sekolah SMPN 4 Kendari kepada Warta Sultra saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (4/2/2019).


Drs. Muh. Saleh, M.Pd selaku Kepala Sekolah SMPN 4 Kendari/Foto : Riki

Untuk memperbaiki server yang bermasalah, pihak sekolah mendatangkan proktor (pihak yang ditunjuk dan ditugaskan untuk bertanggungjawab mengendalikan sever di sebuah sekolah) dan teknisi guna membantu mencari solusi terhadap hal yang dihadapi.

“Setelah mendapat bantuan dari berbagai pihak, masalah server dapat diatasi, namun kendala kembali muncul dan hal itu merupakan permasalahan yang sama. Kami ingin mengganti server baru akan tetapi yang terdaftar ke pusat hanya server yang bermasalah tersebut,” jelasnya.

Selain terkendala dengan server, SMPN 4 Kendari juga masih kekurangan komputer. Kepala Sekolah SMPN 4 Kendari ini mengungkapkan, saat ini pihak sekolah hanya memiliki sekitar 46 komputer.

Jumlah tersebut tidak sebanding dengan jumlah peserta ujian yang mencapai 422 orang. Untuk menutupi kekurangan komputer, pihak sekolah harus meminjam laptop dari masing-masing siswa. Dimana, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pihak sekolah yang akan bertanggung jawab.

“Selain di ruangan dua, hampir di ruangan-ruangan lain para peserta ujian tidak dapat login, dan ketika berhasil login, mereka tidak memperoleh soal ujian. Situasi tersebut dialami saat memasuki sesi kedua,” pungkasnya. (*WS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.