Tahapan Penagihan Pinjaman Online

Pinjaman online atau lebih akrab disebut pinjol merupakan alternatif pembiayaan, selain bank, koperasi, dan pegadaian. Sebagaimana tertulis dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi, menimbang bahwa teknologi informasi telah digunakan untuk mengembangkan industri keuangan yang dapat mendorong tumbuhnya alternatif pembiayaan bagi masyarakat. 

Nasabah pegadaian tidak akan berhadapan dengan penagih atau debt collector yang kemudian masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan DC. Sedangkan nasabah bank, koperasi, dan pinjol akan berhadapan dengan debt collector , baik untuk mengingatkan bahwa tagihan akan jatuh tempo (japo), menagih pelunasan pada saat tagihan jatuh tempo, atau menekan nasabah saat tagihan lewat dari jatuh tempo. 

Debt collector leasing (kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha) dikenal kasar dan kejam, tidak jarang mereka melakukan kekerasan fisik dan bahkan merampas barang yang pembayaran cicilannya melebihi jatuh tempo. Tetapi cap buruk tersebut telah diambil alih oleh debt collector pinjol maka tidak berlebihan jika penulis menyatakan bahwa seganas-ganasnya debt collector leasing masih lebih ganas debt collector pinjol. 

Tahapan Penagihan 

Tiga Hari Sebelum Jatuh Tempo
Sebagaimana hasil eksperimen dan analisa yang penulis lakukan, semua pinjol baik legal maupun ilegal menerapkan cara ini dimana pihak pinjol menghubungi nasabah melalui telepon atau whatsapp untuk mengingatkan bahwa pinjaman akan jatuh tempo. Sebagian pinjol ilegal menawarkan potongan hutang jika nasabah melunasi pinjaman sebelum jatuh tempo. Jumlah potongan yang ditawarkan antara 10,000 hingga 50,000. Pada tahap ini, pihak penagih menami dirinya sebagai customer service, bukan debt collector.

Sebagian pinjol, baik yang legal maupun ilegal, menawarkan kemudahan pencairan pinjaman dengan nominal lebih tinggi bagi nasabah yang melakukan pelunasan lebih awal dari jatuh tempo. Sesungguhnya iming-iming ini tidak perlu karena semua pinjol secara otomatis akan menaikkan nominal pinjaman setelah nasabah melunasi pinjaman sebelumnya.

Pada tahap ini, jarang ditemui penagih yang kasar karena memang belum jatuh tempo. Tetapi ada juga penagih yang mulai menekan nasabah pada satu hari sebelum jatuh tempo. Jika nasabah tidak membayar pada saat itu, maka pihak penagih akan menekankan bahwa besok (saat jatuh tempo) harus dibayar sebelum pukul sekian, dengan alasan mengikuti jam operasional kantor pinjol tersebut.

Saat Jatuh Tempo
Mimpi buruk itu mulai tiba. Ini berlaku bagi pinjol legal maupun ilegal. Pada tahap ini nasabah harus siap jika telepon terus berdering dari pagi, demikian juga pesan tertulis atau telepon melalui whatsapp. Bedanya, pengaih pinjol legal tidak sekasar pinjol ilegal.

“Jam berapa dibayar hutang anda?”
“Saya tunggu pembayarannya jam sekian ya, saya tidak mau lembur karena nunggu pembayaran anda”
“Sudah siang ini, kenapa belum dibayar, anda mau main-main dengan saya”
“Anda sebenarnya punya atau tidak untuk membayar hutang anda”
Kurang lebihnya demikian, tetapi contoh di atas masuk kategori “halus”, jauh lebih banyak yang menggunakan kata-kata kasar, bahkan tidak jarang mereka menggunakan ancaman menyebar data, padahal masa jatuh tempo pun belum berakhir.

Perlu diketahui bahwa pinjol adalah jasa pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi, pinjol bukan bank, pegadaian, atau koperasi yang terikat jam kantor dalam melakukan transaksi. Sebagai contoh, jika nasabah terlambat membayar pinjaman ke pegadaian pada hari ini karena pegadaian sudah tutup, maka nasabah harus kembali lagi besok karena transaksi hanya bisa dilakukan pada jam kerja kantor pegadaian.

Sedangkan pinjol, batas waktu jatuh tempo adalah 24 jam. Jadi nasabah memiliki kesempatan 24 jam untuk melakukan transaksi, karena pinjol mengikuti hari dan tanggal pada sistem bukan pada jam kantor. Misal, nasabah jatuh tempo pada tanggal 10 Agustus 2019 maka itu artinya, nasabah memiliki waktu dari 00.00 hingga 24.00. Penagih pinjol tidak bisa menekan nasabah harus membayar pukul sekian dengan alasan apapun. Tetapi, ternyata masih banyak nasabah pinjol yang belum paham tentang hal ini sehingga ketika pihak penagih memberikan batas waktu pukul 13.00 dengan ancaman penyebaran data, maka nasabah panik dan ketakutan.

Rasa panik dan ketakutan ini bukan tanpa alasan, karena penulis sudah melakukan eksperimen dan analisa langsung, hampir semua penagih memang luar biasa kasar, baik secara lisan maupun tulisan. Jika nasabah belum mampu melunasi pada saat jatuh tempo, maka pihak pinjol mulai menggunakan senjata ampuh mereka, mengalihkan data nasabah ke pihak ketiga dan nasabah harus siap datanya disebar. Sejauh ini, ancaman penyebaran data pada tahapan ini hanya dilakukan oleh pinjol ilegal. 

Lewat dari Jatuh Tempo
Tahap ini, bukan lagi mimpi buruk tetapi menantang maut. Karena nasabah berhadapan dengan pihak ketiga sebagaimana disampaikan oleh penagih sebelumnya. Meski nasabah tidak pernah tahu, siapa yang dimaksud dengan pihak ketiga. Yang penulis tahu, penagih pada tahap ini adalah robot-robot berdarah dingin yang bisa berwujud suara perempuan dan laki-laki, robot-robot yang tidak memiliki hati, robot-robot yang diduga tidak pernah mengenyam dunia pendidikan.

Ancaman penyebaran data pun bukan lagi hisapan jempol, tetapi bisa menjadi kenyataan. Pinjol ilegal tidak perlu menunggu waktu lama untuk melakukan penyebaran data, nasabah terlambat membayar satu atau dua minggu pun data sudah disebar. Sejauh ini, yang melakukan tindakan ini hanya pinjol ilegal.

Selain resiko penyebaran data, pinjaman pokok pun semakin beranak pinak, mencekik leher. Terkait pinjaman pokok yang akan terus beranak dan bercucu, berlaku bagi pinjol legal maupun ilegal. Sesungguhnya, modal mengajukan pinjaman ke pinjol bukanlah hanya KTP dan surat-surat pendukung lainnya, tetapi juga mental. Jika nasabah tidak siap menghadapi tekanan-tekanan itu, memang tidak mustahil jika akhirnya nasabah mengambil jalan pintas, bunuh diri. (*WS)