Belajar Toleransi dan Makna Manusia Merdeka dari Danrem 143/HO Kendari

Untuk menghormati dan menghargai sesama umat manusia tak butuh syarat apa latar belakang suku, agama, golongan, dan rasnya
Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto, S.E, M.Si,
Danrem 143/HO Kendari

Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto, S.E, M.Si, resmi menggantikan Kolonel Arm Dedi Nurhadiman, S.I.P., sebagai Komandan Komando Resor Militer (Danrem) 143/HO Kendari. Lelaki kelahiran Situbondo ini, pada 10 Juli 2019 lalu genap berusia 51 tahun. Sebagaimana anggota TNI (Tentar Nasional Indonesia), tentu Yustinus, demikian ia akrab disapa, berbadan tegap dan tegas dalam bertutur kata. Tetapi Yustinus Nono Yulianto pun sosok yang mudah menyapa sekaligus disapa, sosok yang bersahabat, demikian tepatnya.

Sebagai orang nomor satu di tubuh TNI AD di Sulawesi Tenggara (Sultra), ia tidak pernah “jual mahal” dalam menjalin komunikasi dengan siapa saja, dari kalangan apapun, agama apapun, baik melalui aplikasi whatsapp maupun telepon.

Untuk seorang Danrem, tentu Yustinus Nono Yulianto mendapatkan fasilitas khusus jika bertugas ke luar kota Kendari, sebut saja saat bertugas di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Fasilitas tinggal di hotel tentu didapat, tetapi Danrem 143/HO tersebut justru lebih memilih tinggal di Asrama Korem 143/HO yang ada dekat sebuah mall di Makassar. 

Komentar dari penjaga mess dan orang-orang yang tinggal di sana, Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto memang berbeda. Ia dikenal supel dan ramah kepada bawahan, dan tentu saja, tegas.

Saat dipublikasikan tulisan ini, tanpa terasa sudah tujuh bulan Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto telah menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Danrem 143/HO. Ketika dikonfirmasi kesan pertama terhadap Kendari, Danrem menyatakan kagum dengan adanya bangunan masjid dan gereja yang berdempetan di sekitar Kota Lama Kendari. Menurutnya, dua bangunan tersebut merupakan simbol sekaligus bukti sejarah tentang tingginya toleransi di Kendari.

Membahas toleransi di tengah maraknya berita-berita tentang intoleransi, tentu suatu hal yang menarik, terlebih dengan seorang tentara. Sebagaimana diketahui, saat Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto tiba di Kendari pada 24 Januari 2019 lalu, ia didampingi oleh ibunda tercinta yang mengenakan busana muslim.

Disepakati atau tidak, nama dan busana, merupakan salah satu identitas seseorang. Nama seseorang kadang mewakili agama yang dianut atau suku pemilik nama, dan Danrem 143/HO membenarkan bahwa nama Yustinus bukanlah nama Islam. Ketika dikonfirmasi terkait busana Ibunda, Danrem pun menjelaskan bahwa ia dan orang tua memeluk agama yang berbeda.

“Tidak masalah ini ditulis. Jadi, saya beragama Katolik sedangkan orang tua dan saudara saya beragama Islam. Istri dan anak-anak saya juga beragama Katolik,” tegas Danrem.

Lelaki tiga anak ini pun menjelaskan secara detil bahwa, semula agama yang dianut oleh orang tuanya adalah Katolik tetapi dalam perjalanannya, akhirnya kedua orang tua dan beberapa saudara memutuskan memeluk agama Islam. Bahkan orang tua Danrem 143/HO tersebut sudah menunaikan ibadah haji, tutur Danrem dengan bangga.

Ia menambahkan, perbedaan agama yang ada dalam keluarga besarnya tersebut bukanlah masalah karena keyakinan atau agama merupakan kemerdekaan bagi setiap umat manusia.

“Jika saya natalan, ibu dan keluarga saya tetap memberikan ucapan dan turut merayakan. Demikian juga saat lebaran misalnya, saya, istri, dan anak-anak juga turut merayakan, dan itu sangat indah,” jelas lelaki kelahiran Desa Asembagus Situbondo ini.

Ia menambahkan, Salah satu bukti manusia merdeka adalah, bebas menentukan agama yang ia anut atau peluk sesuai dengan pilihan hatinya. Tidak ada satu pun manusia yang memiliki hak untuk merampas hak itu, dengan alasan apapun.

“Banyak hal yang sudah final di negeri ini yang sudah tidak perlu diutak-atik lagi bahwasannya para pejuang terdahulu memerdekakan Negara Kesatuan Republik Indonesia, salah satu tujuannya adalah agar rakyat Indonesia merdeka menentukan agama yang dianut,” tegas Abbitueren Akmil 1992 ini.

Lebih lanjut Danrem menyatakan, kekayaan luar biasa yang dimiliki Indonesia bukan hanya kekayaan alam tetapi juga kekayaan berupa beragam suku, budaya, dan agama. Bhinneka Tunggal Ika, itulah Indonesia. Sikap yang tepat, yang harus dijaga oleh seluruh masyarakat Indonesia adalah mengembangkan wawasan nusantara agar benar-benar mengenal jati diri bangsanya. Jika sudah mengenal dengan benar jati diri bangsanya maka rasa bangga menjadi manusia Indonesia akan sangat besar, sekaligus mensyukuri diciptakan Tuhan Yang Maha Esa sebagai manusia Indonesia.

“Contoh sederhana saja, ketika kita pergi ke suatu daerah di Indonesia ini, kita akan menemui kuliner, bahasa daerah, dan tata busana yang berbeda. Perbedaan itulah yang menjadikan kita bangsa besar di mata dunia, maka sudah sepatutnya perbedaan itu menjadi warna-warni yang indah dalam semangat persatuan Indonesia,” ungkap perwira yang bernah kurang lebih tujuh tahun bertugas di lingkup Kodam III/SLW, Papua.

Diluar dugaan, Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto ternyata memiliki perhatian khusus tentang tari tradisional. Ia menyampaikan kekagumannya pada penari yang terus melestarikan tarian tradisional, salah satu yang ia contohkan, penari yang turut serta dalam pembukaan dan penutupan program TMMD (Tentara Manunggal Membangun Desa) di Sultra. Tari tradisional menurutnya adalah salah satu kekayaan tak ternilai yang dimiliki kelompok atau suku tertentu khususnya dan bagi Indonesia. Maka tari tradisional harus terus dilestarikan.

“Saya bangga dengan orang-orang yang peduli dengan pelestarian budaya Indonesia, mereka adalah orang-orang hebat,” tutur ayah tiga anak ini.¬†

Lelaki penyuka asam Jawa ini menegaskan, semua warga negara Indonesia harus memiliki rasa merdeka. Merdeka memeluk agama dan menjalankan ibadah sesuai tuntunan agamanya, merdeka menjaga identitas dirinya sebagai putra putri daerah, merdeka melestarikan budaya yang diwariskan leluhurnya, tidak boleh ada satu orang atau golongan pun yang dirampas haknya karena para pejuang sudah memperjuangkan kemerdekaan itu bagi seluruh rakyat Indonesia. Pejuang bukan memerdekakan kelompok atau golongan tertentu tetapi segenap bangsa dan negara Indonesia.

“Untuk menghormati dan menghargai sesama umat manusia tak butuh syarat apa latar belakang suku, agama, golongan, dan rasnya,” tegas Danrem 143/HO yang ternyata penyuka asam Jawa ini.

Terkait asam Jawa, Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto menyampaikan saat penutupan TMMD 105 di Buton Utara (Butur), Sultra. Dalam kunjungannya di sebuah pasar tradisional, Danrem sempat memborong satu karung asam Jawa. Aksi memborong ini bukan tanpa alasan, ternyata lelaki kelahiran Desa Asembagus ini memiliki kenangan tersendiri tentang asam Jawa.

“Saya suka makan asam Jawa saat saya masih kanak-kanak. Desa saya disebut Asembagus karena penghasil asam,” jelas Danrem.

Pada perayaan Hari Raya Idhul adha lalu, Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto memimpin acara penyerahan hewan kurban di masjid yang berada di Korem 143/HO. Dalam kesempatan tersebut Danrem menyatakan, kerelaan berqurban itulah yang menjadi ukuran apakah seseorang itu beriman atau tidak. Ukuran iman bukan pada penampilan ritual keagamaan secara fisik, tetapi pada bukti-bukti kerelaan berqurban dalam segala hal terutama untuk kepentingan semua makhluk ciptaan Tuhan.

Salah satu hal yang paling menarik untuk dipelajari dari Danrem 143/HO ini adalah selalu memberikan identitas kepada siapapun sebagai umat manusia ciptaan Tuhan, tanpa sekat agama, suku, ras, dan golongan. Demikian juga dalam hal bersikap, sebagai manusia harus terus berupaya bersikap baik kepada siapapun, apapun latar belakangnya.

“Yang boleh dirampas kemerdekaannya itu adalah orang-orang yang merongrong ideologi dan berpotensi memecah belah bangsa serta mengganggu kedaulatan NKRI, itu harga mati.” pungkas Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto yang pernah menjabat sebagai Staf Ahli Pangdam XIV/Hasanuddin Bidang Ideologi. (*WS)