Berbincang dengan Ahmad Fauzi, Penulis Pengidap Skizofrenia

Skizofrenia merupakan gangguan mental yang terjadi dalam jangka panjang. Gangguan ini menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Gejala tersebut merupakan gejala dari psikosis, yaitu kondisi di mana penderitanya kesulitan membedakan kenyataan dengan pikirannya sendiri.

Bagi Ahmad Fauzi, skizofrenia penyakit yang membanggakan sekaligus kutukan, karena skizofrenia sesuatu yang menyakitkan dan melemahkan tapi anehnya sering bersarang pada pribadi-pribadi besar dalam sejarah agama dan ilmu pengetahuan. Sebut saja, Vincent van Gogh, Camille Claudel, Syd Barret, Vaslav Nijinsky, dan Eduard Einstein.

Menurut pengakuan lelaki kelahiran Semarang 11 Juli 1979 tersebut, ia telah mengidap skizofrenia selama 15 tahun. Sampai sekarang pun harus terus minum obat penenang setiap hari. Ahmad Fauzi tidak setuju kalau skizofrenia hanya dianggap sebagai penyakit abnormal yang merusak dan melemahkan mental.

“Skizofrenia bisa menjadi senjata dialektis yang mampu mengangkat dan mempertajam daya pikiran dan imajinasi kita walaupun terlebih dahulu harus merasakan rasa sakit dan retardasi mental yang berkepanjangan,” tutur Fauzi.

Ia menambahkan, kekuatan imaji yang ditempa oleh dinamika psikis abnormal ini mampu membuka wawasan kreatif dan kecakapan-kecakapan orisinil yang selama ini tersegel dalam alam bawah sadar. Psikis abnormal inilah yang bisa membangunkan raksasa yang sedang tertidur dalam relung-relung gelap alam bawah sadar kolektif manusia.

Dalam wilayah spiritual, skizofrenia oleh Ahmad Fauzi dirasakan layaknya pengalaman-pengalaman keagamaan yang penuh misteri dan teka-teki, meskipun separuhnya untuk sementara waktu bisa menghancurkan pikiran dan merusak tubuh.

Sebelum merasakan skizofrenia, sedikitpun tidak ada rasa sedih, depresi ataupun kecewa, justeru Ahmad Fauzi sering mengalami kegembiraan yang meluap-luap sebagai ekspresi dari ekstase olah ibadah. Ia juga mengalami pengalaman-pengalaman animistik-eksistensial yang apabila berdiri di tengah-tengah masyarakat seolah seluruh cakrawala lenyap dalam dirinya. Mungkin ini awal dari munculnya waham kebesaran, sebut Fauzi.

Ahmad Fauzi bagaikan terhubung dengan alam semesta yang bersifat organis. Jiwanyya seakan disusupi oleh ruh alam raya yang menjadi inti penggerak dunia. Alam semesta terasa hidup dan bisa kita ajak berkomunikasi.

“Semuanya memiliki makna dan tujuan, tidak ada yang sia-sia dan percuma,” jelas Fauzi.

Ia juga merasakan menjadi titik pusat gravitasi dalam alam raya yang tak terbatas. Jiwa manusia yang dibalut lemahnya daging dan tulang ternyata merupakan nyawa dan miniatur alam semesta. Hal ini disimbolkan oleh daya kemahakuasaan pikiran yang ia alami, meski oleh Sigmund Freud dianggap sebagai delusi proses primer, namun pengalaman ini begitu nyata seolah-olah dihinggapi oleh kekuatan adi-duniawi yang tak nampak tapi berkuasa dan mengendalikan diri manusia.

Kegaiban dan perasaan disentuh oleh kekuatan yang tak terhingga menjadi ciri khas dalam spiritualisme skizofrenia. Setelah itu, mulailah memasuki episode delusi pengontrolan pikiran dan halusinasi auditorik yang menakutkan dan penuh dengan suara-suara asing yang terus menerus membisiki dan menelusupkan kata kata lirih ke dalam pikirannya.

Ahmad Fauzi merasa bersyukur telah mengalami skizofrenia meskipun harus dibayar dengan harga yang sangat mahal, bahkan hampir kehilangan jiwa karena ia berusaha melakukan bunuh diri berkali kali selama retardasi mental.

Skizofrenia telah membuka pikiran Ahmad Fauzi terhadap semua buku-buku yang dulunya tidak bisa dipahami menjadi terang benderang dan mudah dimengerti. Skizofrenia mengantarkan ia untuk memasuki studi Psikonalisa Sigmund Freud secara lebih mendalam meskipun sebelum terkena skizofrenia ia sudah mempelajarinya.

Dengan wawasan skizofrenia, Psikoanalisa menjadi studi yang relatif mudah untuk dipahami, walaupun objek studi Sigmund Freud itu sebenarnya bukanlah skizofrenia, melainkan neurosa dan histeria. Selain itu teori-teori mulai dari filsafat, agama, sosiologi, antropologi, pendidikan, etika, ekonomi-politik, sastra, psikologi, dan sains terutama fisika dan matematika, selalu menari-nari memperlihatkan keelokan magis dan keanggunan simetris di hadapan pikiran Ahmad Fauzi.

Ahmad Fauzi kini telah menulis sekaligus menerbitkan sedikitnya enam buku. Enam buku tersebut adalah;

  1. Gagalnya Islam di Indonesia
  2. Kesurupan Tuhan (Essai dan Puisi)
  3. Tragedi Incest Adan dan Hawa, dan Nabi Kriminal
  4. Nabi Bersenjata
  5. Agama Skizofrenia. Kegilaan, Wahyu, dan Kenabian
  6. Iblis Sang Nabi Primitif (Sebuah Novel Kesurupan)

Adalah benar, jangan menghakimi sebuah buku dari sampulnya saja, tetapi mau tidak mau, judul memiliki peran sangat besar dalam menarik minat pembaca atau justru berbalik anti. Judul buku-buku karya Ahmad Fauzi “abnormal”, dari judulnya, sulit diterima oleh semua penikmat buku. Mungkinkan, karya seorang pengidap Skizofrenia hanya bisa dinikmati oleh sesamanya atau bisa dibaca oleh semua kalangan? Penulis tidak mampu menjawab karena penulis baru membaca satu karya Ahmad Fauzi, Iblis Sang Nabi Primitif (Sebuah Novel Kesurupan). Ada baiknya, sisakan uang untuk membeli kemudian siapkan waktu untuk membaca. Selebihnya, terserah pembaca untuk menilainya.

Perlu diketahui, Ahmad Fauzi menulis, mencetak, dan menerbitkan sendiri semua karyanya karena mungkin ia sadar karya “gilanya” sulit diterima oleh penerbit. Untuk menyempurnakan kerja sendirinya, ia pun promosi dan menjual bukunya sendiri, tanpa tim pemasaran apalagi toko online. Demikian perbincangan menarik dengan Ahmad Fauzi selama kurun waktu dua minggu melalui akun whatsapp. (*WS)