Peluang dan Tantangan Generasi Milenial dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Kongres V Ikatan Mahasiswa Akuntansi Indonesia (IMAI) Simpul Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar seminar nasional dengan mengangkat tema “Opportunities and Challenges of Milennial Generation in Facing Industrial Revolution 4,0”. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Aula Bertaqwa Kantor Walikota Kendari pada Rabu 13 Februari 2019.

Seminar nasioanl ini menghadirkan dua pemateri yakni Ridhony Marisson H. Hutasoit, SE., CRMO., CIO selaku Kepala Subbagian Pengawasan 2 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tenggara (Sultra) dan Isnaeni Achdiat, SE., M.AK., CA., CIA., CISA., CISM., CGEIT selaku Anggota Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

Dalam materinya, Ridhony Marisson H. Hutasoit menyampaikan bahwa revolusi industri merupakan perubahan besar-besaran di bidang industri yang berdampak luas pada kondisi sosial, budaya, dan ekonomi. Saat ini, dunia telah memasuki era revolusi industri 4.0, berbagai teknologi yang menjadi tanda dimulainya revolusi industri 4.0 sudah mulai diterapkan di berbagai bidang.

“Revolusi teknologi yang secara fundamental telah mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berhubungan satu sama lain. Dalam skala ruang lingkup dan kompleksitasnya, transformasi yang sedang terjadi berbeda dengan apa yang telah dialami manusia sebelumnya,” ujarnya, Rabu (13/2/2019).

Ia katakan, dalam sejarah revolusi industri, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak mengubah dunia sebagaimana pada revolusi generasi pertama (1.0) melahirkan sejarah, yakni saat itu ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Revolusi industri pertama yang dimulai sejak tahun 1784 memperkaryakan air dan kekuatan uap untuk mekanisasi sistem produksi.

“Kemunculan mesin uap pada abad ke-18 ini dicatat oleh sejarah, berhasil menaikkan perekonomian secara dramatis. Dimana, selama dua abad setelah revolusi industri terjadi peningkatan rata-rata pendapatan per kapita negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat,” paparnya.

Pada revolusi industri generasi kedua (2.0) yang dimulai tahun 1870, ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam melangsungkan produksi masal. Kemudian, revolusi industri generasi ketiga (3.0) yang ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet dimulai tahun 1969 menggunakan kekuatan elektronik dan teknologi informasi untuk otomatisasi proses produksi.

“Hingga saat ini, pada revolusi industri generasi keempat (4.0) telah menemukan pola baru. Dimana, revolusi industri 4.0 ini telah ditandai dengan bersatunya beberapa teknologi, sehingga kita dapat melihat suatu area baru yang terdiri dari beberapa bidang ilmu independen,” tambahnya. 

Sementara itu, Isnaeni Achdiat menambahkan bahwa revolusi industri ini tidak hanya menyediakan peluang, tetapi juga merupakan sebagai tantangan bagi generasi milineal. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pemicu revolusi indutri juga diikuti dengan implikasi lain seperti pengangguran, kompetisi manusia lawan mesin, dan tuntutan kompetensi yang semakin tinggi

“Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat memberikan dampak yang besar terhadap kehidupan manusia. Banyak kemudahan dan inovasi yang diperoleh dengan adanya dukungan teknologi digital, layanan menjadi lebih cepat dan efisien serta memiliki jangkauan koneksi yang lebih luas dengan sistem online hingga hidup menjadi lebih mudah dan murah,” ungkapnya. 

Namun demikian, lanjutnya, digitalisasi program juga membawa dampak negatif, yang dimana, pekerjaan manusia tahap demi tahap diambil alih oleh mesin otomatis. Akibatnya, jumlah pengangguran semakin meningkat. Oleh karena itu, kata Anggota Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia untuk memanfaatkan peluang dan menjawab tantangan revolusi industri, para kaum milenial wajib memiliki kemampuan literasi data, teknologi dan mengikuti arus digital. 

“Meski demikian, tantangan generasi milenial juga terkait literasi teknologi, sehingga kaum milenial bisa mengembangkan dan memanfaatkan dengan baik teknologi yang digunakan. Generasi milenial dituntut tidak hanya cerdas, tapi harus punya karakter yang baik dalam menghadapi revolusi industri 4.0 ini,” tuturnya. (*WS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.